Gunung Gede Pangrango (Field Trip HAGI 2011) September 14, 2011
Posted by wiretes in Geowisata.Tags: gede pangrango, geowisata, gunung, pendakian, taman nasional
trackback
Sejumlah orang telah berkumpul di sekretariat HAGI di Patra Jasa Office Tower sore itu Jumat 10 Juni 2011. Sekitar jam 7 malam kami berangkat menggunakan bus dan sampai di suatu vila di taman wisata Cibodas. Kami bermalam di situ sebelum paginya memulai pendakian. Pagi buta kami bersiap untuk berangkat dan sebelumnya sarapan di Cibodas.
Satu jam pertama perjalanan terasa sangat berat karena sudah lama tidak melakukan perjalanan seperti ini. Di pos perhentian pertama dijumpai telaga biru. Telaga ini letaknya tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Menurut papan informasi warna telaga ini kadang berubah dari hijau kecoklatan menjadi biru. Hal ini disebabkan karena tumbuhnya organisme dan larutan produk vulkanik yang terbawa air.
Perjalanan dilanjutkan melalui jalan setapak di tengah belantara yang memang dikhususkan untuk para pendaki. Rombongan mulai terpisah menjadi beberapa kelompok. Di sepanjang perjalanan terdengar suara berbagai macam binatang yang memang dilindungi di taman nasional ini. Owa jawa terlihat bergelantungan di pucuk – pucuk pohon yang tinggi menjulang. beberapa burung tampak hinggap dan beterbangan di pepohonan.
Pagi mulai berganti menjadi siang. Fenomena alam menarik lainnya yang dijumpai adalah mata air panas yang mengalir dengan deras membentuk semacam air terjun. Uap dari air panas tersebut menutupi jalan yang kami lewati untuk menyeberangi air terjun tersebut.
Setelah dari mata air panas ditemui juga air terjun yang lebih besar di sisi kanan jalan setapak.
Tengah hari kami sampai di pos pemberhentian Kandang Badak untuk istirahat siang dan makan. Sebagian rombongan masih ada yang tertinggal jauh dibelakang. Cukup istirahat perjalanan dilanjutkan kembali menyusuri jalan setapak yang semakin terjal. Ada sebuah tanjakan yang disebut tanjakan setan karena di tanjakan tersebut pendaki harus sedikit climbing. Semakin tinggi jumlah tumbuhan semakin berkurang dan hanya tertinggal beberapa macam tumbuhan dataran tinggi vulkanik.
Hampir magrib kami baru melihat puncak. Lelah seharian perjalanan serasa hilang melihat keadaan sekitar yang menakjubkan. Di lereng tampak pohon edelweiss dengan bunganya yang masih kecil. Awan putih menyelimuti lereng gunung. Kawah yang masih aktif terlihat di bawah.
Sinar matahari mulai meredup. Kami harus menuruni lereng menuju tempat kemah di lembah Surya Kencana. Di kegelapan malam dan hujan gerimis kami menuruni lereng terjal menuju tempat kemah. Jam 8 malam kami baru sampai di tempat kemah. Hujan deras mengguyur perkemahan menambah dinginnya malam yang membuat badan menggigil.
Matahari terbit tidak dapat disaksikan dengan sempurna karena posisi perkemahan yang berada di lembah. Setelah sarapan kami berkemas dan mendaki lagi jalan terjal menuju ke puncak. Matahari yang lebih cerah membuat suasana semakin menakjubkan.
Thanks to: Allah SWT, HAGI, PERTAMINA, all participant, all porter.
more info










Komentar»
No comments yet — be the first.