jump to navigation

Gunung Gede Pangrango (Field Trip HAGI 2011) September 14, 2011

Posted by wiretes in Geowisata.
Tags: , , , ,
add a comment

Sejumlah orang telah berkumpul di sekretariat HAGI di Patra Jasa Office Tower sore itu Jumat 10 Juni 2011. Sekitar jam 7 malam kami berangkat menggunakan bus dan sampai di suatu vila di taman wisata Cibodas. Kami bermalam di situ sebelum paginya memulai pendakian. Pagi buta kami bersiap untuk berangkat dan sebelumnya sarapan di Cibodas.

Satu jam pertama perjalanan terasa sangat berat karena sudah lama tidak melakukan perjalanan seperti ini. Di pos perhentian pertama dijumpai telaga biru. Telaga ini letaknya tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Menurut papan informasi warna telaga ini kadang berubah dari hijau kecoklatan menjadi biru. Hal ini disebabkan karena tumbuhnya organisme dan larutan produk vulkanik yang terbawa air.

Perjalanan dilanjutkan melalui jalan setapak di tengah belantara yang memang dikhususkan untuk para pendaki. Rombongan mulai terpisah menjadi beberapa kelompok. Di sepanjang perjalanan terdengar suara berbagai macam binatang yang memang dilindungi di taman nasional ini. Owa jawa terlihat bergelantungan di pucuk – pucuk pohon yang tinggi menjulang. beberapa burung tampak hinggap dan beterbangan di pepohonan.

Pagi mulai berganti menjadi siang. Fenomena alam menarik lainnya yang dijumpai adalah mata air panas yang mengalir dengan deras membentuk semacam air terjun. Uap dari air panas tersebut menutupi jalan yang kami lewati untuk menyeberangi air terjun tersebut.

Setelah dari mata air panas ditemui juga air terjun yang lebih besar di sisi kanan jalan setapak.

Tengah hari kami sampai di pos pemberhentian Kandang Badak untuk istirahat siang dan makan. Sebagian rombongan masih ada yang tertinggal jauh dibelakang. Cukup istirahat perjalanan dilanjutkan kembali menyusuri jalan setapak yang semakin terjal. Ada sebuah tanjakan yang disebut tanjakan setan karena di tanjakan tersebut pendaki harus sedikit climbing. Semakin tinggi jumlah tumbuhan semakin berkurang dan hanya tertinggal beberapa macam tumbuhan dataran tinggi vulkanik.

Hampir magrib kami baru melihat puncak. Lelah seharian perjalanan serasa hilang melihat keadaan sekitar yang menakjubkan. Di lereng tampak pohon edelweiss dengan bunganya yang masih kecil. Awan putih menyelimuti lereng gunung. Kawah yang masih aktif terlihat di bawah.

Sinar matahari mulai meredup. Kami harus menuruni lereng menuju tempat kemah di lembah Surya Kencana. Di kegelapan malam dan hujan gerimis kami menuruni lereng terjal menuju tempat kemah. Jam 8 malam kami baru sampai di tempat kemah. Hujan deras mengguyur perkemahan menambah dinginnya malam yang membuat badan menggigil.
Matahari terbit tidak dapat disaksikan dengan sempurna karena posisi perkemahan yang berada di lembah. Setelah sarapan kami berkemas dan mendaki lagi jalan terjal menuju ke puncak. Matahari yang lebih cerah membuat suasana semakin menakjubkan.

Thanks to: Allah SWT, HAGI, PERTAMINA, all participant, all porter.
more info

Wind Power Indonesia April 20, 2011

Posted by wiretes in Bukan Cerita Biasa.
Tags: , , , , , ,
add a comment

Penggunaan energi angin sebagai pembangkit listrik mulai berkembang sejak tahun 1970. Pada tahun 2008 energi angin telah menyumbang 20% tenaga listrik di Denmark, lebih dari 11% di Spanyol dan Portugal, 9% di Irlandia dan hampir 7% di German, sedangkan untuk Amerika Serikat mencapai 2% (IEA Wind, 2009).
Sejak tahun 2000 pertumbuhan kapasitas terinstal setiap tahun mencapai 30%. Pada tahun 2008 terdapat penambahan kapasitas terinstal sebesar 27 GW di lebih dari 50 negara dunia. Penambahan ini menjadikan kapasitas terinstal baik onshore maupun offshore menjadi 127 GW di seluruh dunia.


Biaya untuk energi angin di Negara – Negara berkembang pada tahun 2004 sebesar 8 c/kWh, biaya ini lebih murah apabila dibandingkan dengan geothermal maupun Large Hydro yang berada pada kisaran 10 c/kWh apalagi jika dibandingkan dengan listrik dari solar thermal yang mencapai kisaran 34 c/kWh (UNDP, 2004).
Untuk kawasan Asia, kapasitas terinstal terbesar dimiliki China yang pada tahun 2010 mencapai 42 GW. Selain itu India sebesar 13 GW, Jepang pada tahun 2008 sebesar 1.9 GW, Taiwan 358 MW, Korea Selatan 236 MW. Sedangkan di Asia Tenggara, Filipina telah memiliki 25 MW (GWEC, 2010).
Oil company yang telah memulai bisnisnya di bidang ini adalah BP. Sejak tahun 2005 hingga 2011 BP telah memiliki kapasitas terinstal sebesar 1300 MW di Amerika dan merencanakan menambah kapasitas menjadi 4000 MW sampai tahun 2015 (Website BP, 2011). Selain BP, Statoil telah memiliki beberapa daerah konsesi untuk pengembangan wind farm di Norwegia, bahkan saat ini sedang melakukan uji konstruksi floating turbine pertama di dunia di offshore Norwegia (Website Statoil, 2011). Sedangkan Exxonmobil juga mulai melirik bisnis ini dan telah menyiapkan visi pengembangan energi terbarukan termasuj angin sampai dengan tahun 2030.
Di Indonesia sumber energi angin cukup berlimpah. Sumber daya yang tersedia di alam diperkirakan mencapai 9290 MW (DESDM, 2009) namun kapasitas yang terinstal baru 1.1 MW. Pengembangan energi angin ini akan menambah pasokan energi listrik dan juga sekaligus dapat mengurangi ketergantungan akan energi fosil.
Untuk mendorong pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di Indonesia pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, disebutkan bahwa bauran energi primer untuk Energi Baru dan Terbarukan akan sebesar 17% pada tahun 2025. Sedangkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengeluarkan visi yang lebih agresif mendukung realisasi Perpres tersebut yaitu Visi EBT 25/25, dimana pada tahun 2025 ditargetkan EBT akan memiliki porsi 25% dari total bauran energi primer di Indonesia.

PESONA PANTAI SELATAN GUNUNG KIDUL Agustus 26, 2010

Posted by wiretes in Geowisata.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

Gunung Kidul merupakan sebuah kabupaten di propinsi DIY. Daerah ini terkenal dengan kondisi alamnya yang merupakan topografi karst. Bukit – bukit kapur menjulang membentuk kerucut. Tak jarang terlihat pinnacle yang merupakan menara karst menjulang tinggi.

Baron

Pantainya pun khas bentukan topografi karst. Bukit karst yang langsung berhadapan dengan air laut menyebabkan terbentuknya tebing – tebing yang indah. Lembah diantara dua bukit terhampar menjadi pantai dengan pasir putih yang mempesona. Berbeda dengan umumnya pantai – pantai di selatan jawa yang memiliki pasir hitam. Perpaduan antara tebing dan pasir putih ini menjadi pemandangan yang menakjubkan. Di dalam air tersembunyi berbagai macam binatang laut yang hidup. Mulai dari terumbu karang, kerang, landak laut  sampai dengan gurita dapat ditemui dengan mudah apalagi bila air sedang surut.

Untuk mencapai semua itu diperlukan perjalanan 2 – 3 jam dari kota Jogjakarta. Perjalanan tersebut harus dilalui dengan melewati tanjakan, turunan dan jalan yang berkelok – kelok. Di tengah perjalanan kita dapat menjumpai pemandangan khas daerah karst. Pemandangan indah ini menjadikan perjalanan tidak terasa berat.

Beberapa pantai yang terkenal adalah Pantai Baron, krakal, Kukup, Drini, Ngobaran. Namun pantai – pantai lain yang tersebar sepanjang selatan Gunung Kidul masih menyimpan pesona yang lebih indah. Hanya akses jalan ke tempat – tempat tersebut yang kurang memadai.

Disamping pemandangan alamnya tata kehidupan nelayan yang ada disana menambah daya tarik tersendiri. Keramahan dan keceriaan terpancar dari wajah mereka. Semangat yang menggelora dalam mencari nafkah di tengah lautan.

===============================================================

This slideshow requires JavaScript.

ANALISIS GEOSTATISTIK UNTUK PEMODELAN GEOLOGI Juli 11, 2010

Posted by wiretes in Geologi Terapan.
Tags: ,
16 comments

Sari

Geostatistik merupakan suatu jembatan antara statistik dan GIS. Analisis geostatistik merupakan teknik geostatistik yang terfokus pada variable spasial, yaitu hubungan antara variable yang diukur pada titik tertentu dengan variable yang sama diukur pada titik dengan jarak tertentu dari titik pertama. Proses yang dilakukan dalam analisis geostatistik adalah meregister seluruh data, mengeksplorasi data, membuat model, melakukan diagnostic dan membandingkan model. Dalam aplikasi yang akan dijadikan contoh pemodelan geologi yaitu pada lapangan gas Natuna di Laut Natuna yang meliputi data peta porositas, permeabilitas, saturasi, dan net to gross yang dipakai untuk menghitung volumetric dan simulasi reservoir.

Pendahuluan

Tujuan dari pemodelan pada industri perminyakan adalah tentu saja untuk membuat model dari reservoir minyak dan gas. Model ini sangat berguna untuk mendapatkan perseujuan dari pemerintah dalam hal ini pemerintah akan juga mempertimbangkan aspek ekonomi berdasarkan model yang dibuat (Tyson and Math, 2009). Daerah konsesi Natuna terletak sekitar 225 km timur laut Pulau Natuna di laut Natuna bagian timur. Analisis mendalam dan terintegrasi dengan geostatistik sangat diperlukan untuk dapat membuat model geologi detail untuk analisa fasies dan peta porositas untuk tujuan determinasi dan input pada model simulasi reservoir.

Proses Analisis Geostatistik

Dalam proses analisis yang pertama perlu dilakukan adalah meregister seluruh data yang diperlukan. Hal ini sagat penting dilakukan untuk dapat menggunakan data – data tersebut pada tahapan selanjutnya. Kompatibilitas data untuk dapat dianalisis lebih lanjut apabila menggunakan GIS tentu sangat penting. Data digital akan memudahkan dengan penggunaan work station. Langkah – langkah analisa yang harus dilakukan meliputi:

1. Eksplorasi Data

Pemahaman yang menyeluruh dan dalam pada data yang ada sangat diperlukan untuk dapat menganalisis. Eksplorasi dari pendistribusian data, melihat batasan – batasan secara global dan lokal, melihat pola –pola global, memeriksa korelasi spasial, dan memahami kovariasi dari berbagai data.

2. Pembuatan Model

Pada mulanya geostatistik merupakan sinonim dari “kriging”. Tetapi kemudian dalam perkembangannya juga meliputi metode deterministic. Metode deterministik tidak memiliki penilaian untuk kesalahan prediksi, tidak ada asumsi untuk data sedangkan metode kriging memiliki penilaian untuk kesalahan prediksi dan mengasumsikan data dari proses stokastik. Peta yang dihasilkan dapat berupa peta prediksi (peta interpolasi), peta standar eror, peta Quantile, peta probability.

3. Melakukan Diagnostik

Sebelum menghasilkan hasil akhir harus kita ketahui dahulu seberapa bagusnya prediksi nilai di tempat yang tidak memiliki data real. Dalam pemodelan geologi khususnya pemodelan reservoir, model yang baik akan memiliki satu kualitas yang sederhana yaitu: harus menyediakan prediksi yang baik dari perilaku reservoir untuk merespon keadaan (Tyson and Math, 2009).

Untuk prediksi yang baik harus memiliki prediksi mean eror yang mendekati nol, RMS (root-mean-square) yang lebih kecil lebih baik. Apabila estimasi rata – rata standar eror dibandingkan dengan prediksi eror RMS sama maka prediksi bagus, apabila <1 maka overestimate dan apabila >1 maka underestimate.

4. Membandingkan Model

Beberapa model yang dihasilkan dari beberapa perlakuan harus dibandingkan untuk melihat mana yang lebih baik. Penggunaan cross validation statistic sangat membantu dalam pembandingan ini. Aturan – aturan dasar sebelumnya untuk prediksi yang baik masih digunakan juga untuk pembandingan model.

Peta Fasies Seismik dan Analisis Fasies Deposisi

Untuk pembuatan peta fasies seismik tiap sikuen data yang diperlukan adalah geometri refleksi internal dan hubungannya dengan batas sikuen, tambahan atribut seismik seperti amplitude dan continuity juga diidentifikasi (Dunn et al, 1996).

Fasies deposisi diidentifikasi dari karakter seismiknya dan deskripsi litofasies yang dikalibrasi dari core dan analisis log. Untuk mengidentifikasi karakter seismik sekarang ini dibutuhkan seorang interpreter modern. Tantangannya adalah untuk mengintegrasikan prediksi kuantitatif, kenampakan dan pengukuran dari data seismic ke dalam deskripsi reservoir statis dan model reservoir dinamis melalui seismic 3D dan 4D (Hargrave et al, 2003).

Beberapa teknik interpretasi seismic dalam yang dikemukakan Mair et al, (2003) adalah sebagai berikut:

  1. Menggunakan multiple atribut untuk interpretasi sesar dan penjelajahan permukaan.
  2. Manipulasi data (scanning dan slicing)
  3. Interpretasi seluruh sesar yang ada.

Pengolahan data dengan menggunakan analisis geostatistik menghasilkan peta fasies seismic dan peta fasies deposisi seperti terlihat pada lampiran.

Peta Penyebaran Porositas

Untuk pembuatan peta penyebaran porositas digunakan data porositas dari data sumur dan kecepatan seismic. Pengolahan dari data yang ada menghasilkan peta seperti pada lampiran. Pola kontur pada peta porositas jelas memperlihatkan bahwa interpretasi porositas pada reservoir sangat dipengaruhi oleh fasies deposisinya (Dunn et al, 1996).

Kesimpulan

Analisis geostatic sangat diperlukan dalam pemodelan geologi. Dengan penggunaan statistic dapat diprediksi nilai dari daerah yang tidak memiliki data real sehingga dapat dibuat hasil prediksi yang mendekati nilai penyebaran sebenarnya. Dari data beberapa sayatan seismic dapat dibuat peta fasies seismic dan analisa fasies deposisi. Sedangkan untuk pembuatan peta penyebaran porositas digunakan dari beberapa data sumur dan analisa kecepatan seismic.

Referensi

Dunn, et al, 1996, Application of Geoscience Technology in a Geologic Study of the Natuna Gas Field, Natuna Sea, Offshore Indonesia, Proceeding IPA
117-application_geosc_technology
Hargrave, et al, 2003, What are Interpreters for? The Impact of Faster and More Objective Interpretation Systems, Proceeding IPA
g-106-what are interpreter
Mair, et al, 2003, Prospects to Reservoir Models: Streamline the Workflow, Proceeding IPA
g-097-prospect-to-res.models
Tyson and Math, 2009, Regulatory Aspects of Geological Modelling, Proceeding IPA
IPA09-G-054-REGULATORY ASPECTS OF GEOLOGICAL MODELLING

BENCANA GUNUNG API Januari 16, 2010

Posted by wiretes in Geologi Dasar.
Tags: ,
1 comment so far

Erupsi gunungapi adalah proses keluarnya magma dan atau gas dari dalam bumi ke permukaan berupa letusan yang menghasilkan bahan lepas berbagai ukuran atau leleran yang menghasilkan lava/leleran batu pijar.

Berdasarkan mekanismenya bencana gunung :

1. Bahaya langsung
Bahaya langsung (primer) merupakan bahaya yang ditimbulkan secara langsung oleh erupsi gunungapi. Bahaya tersebut berupa aliran lava, awan panas, longsoran gunungapi, guguran batu pijar, lontaran batu, hujan abu, hujan lumpur, lahar letusan, gas racun dan tsunami gunung api.
- Lava merupakan magma yang keluar dari dalam ke permukaan bumi, biasanya membentuk aliran dengan kecepatan aliran rata-rata 5 sampai dengan 10 meter per hari, bersuhu tinggi (600° sampai dengan 1000°C) sehingga daerah yang terlanda aliran lava akan terbakar dan tertimbun secara permanen.
- Awan panas merupakan aliran massa panas (300° sampai dengan 600°C) berupa campuran gas dan material gunungapi bersifat lepas dari berbagai ukuran, bergumpal..gumpal terlihat seperti awan bergerak menuruni lereng gunung api dengan kecepatan 70 sampai dengan 150 km per jam sehingga dapat mematikan. membakar, dan merusak kehidupan dan lingkungan di sekitarnya.
- Longsoran gunungapi merupakan endapan yang terbentuk dari sebagian tubuh gunungapi yang longsor sebagai akibat letusan gunungapi.
- Guguran batu pijar merupakan pecahan batuan gunungapi yang panas membara atau pijar, yang terbentuk seketika sebagai akibat runtuhnya kubah lava atau ujung aliran lava yang dapat mematikan, membakar, merusak kehidupan dan lingkungan di sekitarnya.
- Lontaran batu merupakan lontaran sebagian magma ke permukaan bumi baik berupa bom gunung api dan atau bongkah batuan gunungapi yang terbentuk pada saat letusan gunungapi yang dapat menyebabkan kematian dan kebakaran.
- Hujan abu merupakan hujan material jatuhan piroklastika lepas berukuran halus sampai kasar yang dapat mengakibatkan robohnya atap bangunan, rusaknya hutan dan tanaman pertanian, menyebabkan sakit mata dan saluran pernafasan, dan dapat pula meningkatkan sifat keasaman air apabila hujan abu masuk kedalam sumber air.
- Hujan lumpur merupakan hujan material jatuhan piroklastika yang terjadi apabila abu gunungapi hasil letusan gunungapi berdanau kawah bercampur air di udara kemudian jatuh bersama-sama sebagai hujan lumpur yang dapat merusak sarana prasarana karena bobotnya yang cukup berat.
- Lahar letusan merupakan lahar yang terbentuk sebagai akibat letusan pada gunungapi berdanau kawah yang dapat melanda daerah pemukiman atau pertanian di sepanjang lembah aliran sungai yang dilaluinya.
- Gas racun atau mofet merupakan gas gunungapi beracun yang dikeluarkan berupa hembusan gas berkonsentrasi tinggi yang terutama menempati celah, lembah atau cekungan pada saat cuaca mendung, berkabut, hujan serta tidak ada angin, dan umumnya tidak berwarna, tidak berbau serta tidak berasa sehingga sulit dikenali dan dapat mematikan.
- Tsunami gunungapi merupakan gelombang pasang air laut atau danau yang terjadi akibat masuknya material hasil erupsi gunungapi ke dalam air laut atau danau sehingga dapat merusak lingkungan yang terlanda.
-

2. Bahaya tidak langsung
Bahaya tidak langsung (sekunder) merupakan bahaya yang ditimbulkan secara tidak langsung oleh erupsi gunungapi, yang berupa lahar hujan dan longsoran gunungapi,
- Lahar hujan merupakan lahar yang terbentuk akibat terjadinya hujan lebat di daerah puncak atau lereng atas gunungapi, dimana air hujan tersebut bercampur dengan material hasil letusan gunungapi di daerah puncak lereng dan membentuk massa cair yang bergerak menuruni lereng melalui lembah.lembah
- Longsoran gunungapi merupakan longsoran sebagian tubuh gunungapi sebagai akibat proses alterasi hidrotermal.

MENGAPA TENGAH HARI JAUH LEBIH PANAS DARIPADA PAGI MAUPUN PETANG? Januari 16, 2010

Posted by wiretes in Bukan Cerita Biasa.
Tags: ,
add a comment

Mungkin tidak terlintas untuk menanyakan hal tersebut di benak kita karena hal ini sudah selalu menjadi keseharian yang kita jumpai semenjak kita lahir. Namun apakah kita tahu apa yang dapat menyebabkan tengah hari jauh lebih panas daripada pagi maupun petang hari? Padahal sama – sama telah muncul matahari yang kita tahu sangat panas. Apakah dalam sehari jarak matahari berubah – ubah sehingga dapat menyebabkan perbedaan panas?
Tentu tidak, jarak matahari relatif tetap sepanjang hari bahkan sepanjang tahun yaitu sekitar 150 juta kilometer dari bumi ini. Ternyata yang menyebabkan ini terjadi adalah perbedaan kekuatan sorotan cahayanya sepanjang hari. Berubah – ubahnya kekuatan ini dikarenakan 2 hal yaitu faktor geometris bumi dan atmosfer.
Bumi kita berbentuk seperti bola dengan jari – jari sekitar 6300 km. bentuk bumi yang seperti ini akan menyebabkan adanya perbedaan kemiringan sudut terjang cahaya matahari di permukaan bimi yang disinarinya (efek kosinus). Apabila cahaya matahari datang tegak lurus dengan permukaan bumi maka cahaya tersebut akan terkumpul. Sedangkan di belahan bumi lain yang menerima cahaya matahari tidak tegak lurus atau miring maka cahaya tersebut akan tersebar mengenai tempat yang lebih luas.
Untuk lebih mudah memahaminya dapat dilakukan percobaan berikut. Ambil sebuah bola dan senter. Di ruangan yang gelap sinari bola tersebut dengan senter tepat di tengahnya. Anda akan melihat cahaya yang mengumpul dan berbentuk bulat. Kemudian setelah itu sinari bola pada daerah pinggirnya. Cahaya akan lebih tersebar dan berbentik lonjong. Bentuk lonjong ini lebih luas daripada bentuk bulat pada tengah bola. Jumlah cahaya yang sama menerangi luas yang berbeda sehingga menyebabkan intensitas cahaya lebih rendah di pinggir bola.
Faktor lain yang lebih penting dari geometri adalah adanya atmosfer yang menyelubungi bumi yang tebalnya beberapa ratus kilometer. Atmosfer membaurkan dan menyerap sebagian cahaya matahari. Oleh sebab itu semakin tebal atmosfer yang dilewati oleh cahaya matahari maka semakin banyak cahaya yang dibaurkan dan dipantulkan. Hal ini mengakibatkan intensitas cahaya matahari pada pagi dan petang hampir 300 kali lebih redup daripada tengah hari.

INTERPRETASI GEOLOGI BERDASARKAN DATA KOMPOSISI KIMIA AIRTANAH Januari 14, 2010

Posted by wiretes in Geologi Dasar.
Tags: , ,
add a comment

Komposisi kimia airtanah dangat dipengaruhi oleh akuifer tempat airtanah tersebut berada. Kontak antara airtanah dan litologi yang menjadi akuifernya akan menyebabkan terjadi suatu reaksi yang memungkinkan parubahan komposisi airtanah. Proses pelarutan mineral pembentuk batuan yang menjadi akuifer oleh airtanah yang melewatinya akan mengakibatkan penambahan kation-anion terlarut pada airtanah dengan jenis yang berbeda.
Dalam menganalisa data komposisi kimia yang ada dapat menggunakan berbagai macam metode diantaranya yang akan dijelaskan berikut 6 metode yaitu:
Metode klasifikasi Kurlov
Penamaan kelas airtanah ditentukan oleh kandungan ion yang mempunyai jumlah presentasinya ≥ 25% ( Suharyadi, 1984). Metode ini dipakai karena lebih praktis dan cepat.
Metode diagram Pie
Diagram ini menunjukkan komposisi ion – ion yang terkandung dalam airtanah dalam daerah – daerah didalam lingkaran yang memiliki proporsi yang berbeda – beda sesuai dengan jumlah kandungan ion masing – masing dalam miliequivalen per liter.
Besarnya jari – jari lingkaran setiap sampel airtanah juga berbeda-beda sesuai dengan jumlah total ion yang dimiliki. Semakin besar jari – jari lingkarannya maka jumlah total ion terlarutnya semakin besar.
Metode diagram Trilinier Piper
Metode ini merupakan metode yang terpenting untuk studi genetik airtanah, sangat efektif dalam pemisahan analisis data bagi studi krisis terutama mengenai sumber unsur penyusun terlarut dalam airtanah, perubahan atau modifikasi sifat – sifat air yang melewati suatu wilayah tertentu serta hubungannya dengan problem – problem geokimia (Suharyadi, 1984).
Diagram ini terdiri dari dua segitiga sama sisi yang terletak di bawah kanan dan kiri. Masing – masing segitiga untuk pengeplotan kation di satu pihak dan anion di pihak lain. Di atas kedua segitiga itu dibuat jajaran genjang dan pada jajaran genjang tersebut titik-titik kation dan anion ditarik ke atas ke dalam jajaran genjang. Dari kedudukan titik tersebut pada jajaran genjang dapat diinterpretasikan tipe kualitas airtanahnya.
Tipe kualitas airtanah dapat diketahui dengan cepat dengan memperhatikan kelompok dominan hasil pengeplotan data pada jajaran genjang. Apabila titik yang diplot jatuh pada daerah 1, kandungan alkali tanah melebihi alkalinya; daerah 2, kandungan alkali melebihi alkali tanah; daerah 3, asam lemah melebihi asam kuat; daerah 4, asam kuat melebihi asam lemah; daerah 5, kekerasan karbonat (alkalinitas sekunder) lebih dari 50%, airtanah didominir oleh alkali tanah dan asam lemah; daerah 6, kekerasan non karbonat (kegaraman sekunder) lebih dari 50%; daerah 7, non karbonat alkali (kegaraman primer) lebih dari 50%, airtanah didominir oleh alkali dan asam kuat. Air laut dan air brine diplot pada daerah ini; daerah 8, karbonat alkali (alkalinitas primer) lebih dari 50%; daerah 9, pasangan kation-anion seimbang tidak ada yang melebihi 50%.
Metode diagram pola Stiff
Metode diagram pola stiff dapat dipakai untuk menghubungkan atau mengkorelasikan kualitas airtanah secara tegak pada suatu lubang bor mulai dari airtanah teratas sampai yang terbawah atau secara mendatar pada akuifer yang sama (Suharyadi, 1984).
Metode ini menggunakan empat sumbu paralel horisontal dan satu sumbu vertikal yang dipakai dalam membandingkan komposisi kimia air berdasarkan arah alirannya. Empat kation diplot pada setiap sumbu sebelah kiri dari titik nol dan empat anion di sebelah kanannya. Hubungan antara titik-titik kation dan anion memberikan gambaran/poligon tertutup atau “pola“. Berdasarkan pola-pola yang dihasilkan dapat diinterpretasikan perkembangan ion-ion tersebut dalam airtanah.
Metode diagram Fingerprint
Metode diagram Fingerprint menyajikan deskripsi visual dari pola kelimpahan relatif ion terlarut dalam bentuk garis dan salinitas relatif yang dilihat dari posisi garis apakah di bagian bawah atau di bagian atas dari diagram (Mazor, 1997).
Setiap garis merupakan penggambaran dari sebuah sampel airtanah. Beberapa sampel airtanah dapat dimasukkan dalam diagram ini untuk dibandingkan.
Dalam pengeplotan ion di dalam diagram ini dipisahkan antara kation dan anion. Kation diplot di sebelah kiri dan anion diplot di sebelah kanan. Semua kation dihubungkan dengan satu garis dan semua anion juga dihubungkan dengan satu garis sehingga dapat dilihat pola keseimbangan antara kation dan anion.
Metode diagram komposisi
Sepasang parameter yang diukur dapat diplotkan dalam diagram x-y, atau lebih dikanal dengan diagram komposisi (Mazor, 1997). Data yang diplotkan misalnya antara ion mayor dengan TDI. Diagram ini menyajikan cara yang cepat untuk dapat melihat keterkaitan antar sampel airtanah.
Pola yang umum terbentuk pada diagram komposisi ini adalah:
1. Satu klaster
Hal ini mengindikasikan bahwa sampel air yang diplotkan berasal dari tipe air yang sama atau dengan kata lain berasal dari akuifer yang sama.
2. Dua klaster
Hal ini mengindikasikan bahwa sampel air memiliki dua tipe air yang berbeda dan tidak terjadi percampuran. Selain itu kemungkinan muncul tiga atau lebih kelompok air yang terlihat pada diagram komposisi.
3. Garis
Pola garis dapat terbentuk akibat percampuran antara fresh water dengan saline water dengan berbagai macam persentase. Minyalnya pada pengeplotan SO42- dengan TDI, perpanjangan garis menuju angka nol mengindikasikan percampuran antara saline water dengan air yang memiliki konsentrasi SO42- yang dapat diabaikan. Perpanjangan garis menuju TDI mengindikasikan bahwa fresh water yang terletak di akhir memiliki konsentrasi ion dominan selain SO42-. Sedangkan perpanjangan garis menuju SO42- mengindikasikan bahwa kedua air yang bercampur memiliki konsentrasi SO42- yang signifikan.
4. Distribusi segitiga
Seringkali data yang diplotkan membentuk pola segitiga. Hal ini mengindikasikan bahwa terjadi percampuran antara tiga tipe air yang berbeda.
5. Distribusi acak
Distribusi acak dapat disebabkan oleh:
- Sampel air tersebut berasal dari sumber yang tidak berkaitan dengan komposisi yang berbeda.
- Kualitas analisis data yang jelek.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.